Lahan sawah seluas sekitar 500 hektare yang menjadi bagian dari program lumbung pangan nasional terhampar di Desa Terusan Makmur, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
borneoexpres.com – Kapuas – Pemerintah Indonesia menempatkan food estate atau lumbung pangan nasional sebagai strategi utama menghadapi ancaman krisis pangan global. Langkah ini sejalan dengan peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) melalui Global Report on Food Crisis yang mencatat kenaikan kerawanan pangan dunia. Pada 2024, lebih dari 295 juta penduduk di 53 negara mengalami kelaparan akut, meningkat hampir 14 juta jiwa dibanding tahun sebelumnya.
Ketahanan pangan, sesuai Konferensi Pangan Dunia 1974, berarti ketersediaan pangan pokok yang memadai setiap waktu untuk menjamin konsumsi stabil. Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi padi, jagung, dan kedelai di Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, masing-masing sebesar 56,02 persen, 46,1 persen, dan 70,9 persen. Kondisi ini mendorong pemerintah memperluas produksi ke luar Jawa, termasuk memanfaatkan lahan suboptimal.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menargetkan swasembada pangan tercapai dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Kementerian Pertanian mendapat mandat mencetak 3 juta hektare sawah baru di Merauke, Papua, Kalimantan, dan Sumatera. Program ini telah berjalan di Merauke dan Kalimantan Tengah, serta akan diperluas ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah prioritas, dengan fokus pengembangan padi, jagung, dan singkong. Gubernur Kalteng, H. Agustiar Sabran, optimis program ini sudah berada di jalur yang tepat.
“Terkait lumbung pangan, saya optimis program ini dapat berjalan baik dan sudah menunjukkan progres yang signifikan,” ujarnya saat pertemuan bersama DPRD Kalteng di halaman Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Jumat (8/8/2025).
Agustiar menambahkan, pihaknya terus mendorong optimalisasi lahan (OPLAH) serta mengaktifkan kembali lahan tidur menjadi produktif.
“Contohnya kemarin kita panen di lahan seluas 3.800 hektare, dan besok targetnya 5.000 hektare. Ini bukti bahwa program berjalan dan hasilnya mulai terlihat,” katanya didampingi Wakil Gubernur H. Edy Pratowo.
Pengembangan food estate tidak hanya diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga mengurangi ketergantungan impor, mendorong ekspor, serta menciptakan lapangan kerja. Pemerintah optimis peran strategis daerah seperti Kalimantan Tengah akan menjadi kunci menuju swasembada pangan dan fondasi ekonomi nasional yang lebih tangguh. (Ab/*)
